Archive for the Uncategorized Category

Restrukturisasi Pengurus MGMP Kimia

Posted in Uncategorized on April 7, 2012 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

Struktur Kepengurusan MGMP Kimia Sumatera Barat

Periode 2012 – 2016

Dewan Penasehat :

  1. Prof. Dr. Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat)
  2. Prof. Dr. Z. Mawardi, M.Pd.
  3. Drs. Syamsurizal, M.Pd. (Kadisdikpora Sumbar)

Dewan Pembina  :

  1. Prof. Dr. Syukri Arief (Unand)
  2. Prof. Dr. Safni, M.Eng (Unand)
  3. Dr. Mawardi (UNP)
  4. Dr. Indang Dewata (UNP)
  5. Drs. Zainal Akil (Ketua PGRI Sumbar)
  6. Drs. Husnul Kamil (Diknas Provinsi)

Pengurus Harian :

Ketua                    : Abinul Hakim, S.Pd, M.Si (SMAN 4 Padang)

Wakil Ketua          : Drs. Diwarman, M.Si (SMAN 2 Batusangkar, Tanah Datar)

Sekretaris              :

  1. Wiranda, S.Pd, M.Si (SMAN 2 Padang)
  2. Surahmad, S.Pd. (SMAN 1 Bukit Sundi, Kab. Solok)

Bendahara             :

  1. Yuni Era HM, S.Pd, M.Si (SMAN 16 Padang)
  2. Dra. Asnailis, M.Pd. (SMAN 1 Nan Sabaris, Kab. Pdg Pariaman)

Bidang Penelitian dan Pengembangan  :

  1. Drs. Nukman, M.Si (SMAN 1 Padang)
  2. Budi Hermawan, S.Pd, M.Si (SMAN 1 Banuhampu, Kab. Agam)
  3. Dra. Roswita, M.Si (SMAN 1 Kubung Kab. Solok)
  4. Cucun, M.Pd (SMAN 1 Pancung Soal Kab. Pesisir Selatan)
  5. Idnawaty, S.Pd., M.Si. (SMAN 1 Padang Panjang)

Bidang Pengembangan Akademis  :

  1. Chaesiah, S.Pd, M.Si (SMAN 1 Panti Kab. Pasaman)
  2. Zamroni Putra, S.Pd. (SMAN 2 Painan Kab. Pesisir Selatan)
  3. Lina Yohana, M.Pd. (SMAN 11 Kota Padang)
  4. Kusni Armen, S.Pd. (SMAN 3 Solok Selatan)
  5. Purnadi Vanto Vani, S.Pd. (SMAN IV Koto Kab. Agam)

Bidang HUMAS / Publikasi :

  1. Salim Muhaimin, S.Pd, M.Si (Kab. Pesisir Selatan)
  2. Dra. Elfi Junaida, M.Si (SMAN 1 Pariaman Kota Pariaman)
  3. Dra. Meili Hayati, M.Si (SMAN 3 Payakumbuh)
  4. Zulfitria Melda, S.Si (SMAN 2 Sawahlunto)
  5. Eva Seswita, S.Si. (SMKN 1 Bukittinggi)

Bidang Pemberdayaan SDM dan Kesra :

  1. Drs. Supar, M.Si (SMAN 2 Sawahlunto)
  2. Fitrisia Dairoza, S.Pd, M.Si (SMAN 2 Solok)
  3. Jamaluddin, S.Pd, (SMAN 1 Suliki Kab. 50 Kota)
  4. Musyofa, M.Si. (SMAN 2 Tarusan Kab. Pesisir Selatan)
  5. Marlisni, S.Pd., M.Si. (SMAN 2 Bukittinggi)

Restrukturisasi MGMP Kimia Sumbar

Posted in Uncategorized on April 5, 2012 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG
Assalamualaikum….!
Pengumuman :
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar berencana akan mengundang 2 org guru kimia per Kab/Kota pada tanggal 11 April 2012 jam 11.00 WIB bertempat di Jurusan Kimia UNP dalam rangka merestrukturisasi kepengurusan MGMP Kimia Sumatera Barat. Untuk itu kepada Bapak/Ibu guru Kimia yang masih aktif di wilayah Sumatera Barat mohon kiranya dapat mengirimkan identitas dengan format : Nama Lengkap/NIP/NUPTK/ TTL/Pendidikan Terakhir/Pangkat dan Gol/No HP/Tempat Tugas/Alamat T4 Tugas/Alamat Rumah/Jabatan di MGMP Kab/Kota./Jabatan di sekolah. ke email : abinulh@yahoo.com atau SMS ke 08126752470.
Terima Kasih

Reaksi Analisa Protein

Posted in Uncategorized on Februari 11, 2009 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu ; Secara kualitatif terdiri atas ; reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida, dan reaksi Sakaguchi. Secara kuantitatif terdiri dari ; metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), dan metode spektrofotometri UV.
Analisa Kualitatif
1. Reaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan.
2. Reaksi Hopkins-Cole
Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut.
3. Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.
4. Reaksi Natriumnitroprusida
Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus –SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif.
5. Reaksi Sakaguchi
Pereaksi yang digunakan ialah naftol dan natriumhipobromit. Pada dasarnya reaksi ini memberikan hasil positif apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan warna merah.
6. Metode Biuret
Larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya senyawasenyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna merah violet atau biru violet.

Analisa Kuantitatif
Analisis protein dapat digolongkan menjadi dua metode, yaitu: Metode konvensional, yaitu metode Kjeldahl (terdiri dari destruksi, destilasi, titrasi), titrasi formol. Digunakan untuk protein tidak terlarut.
Metode modern, yaitu metode Lowry, metode spektrofotometri visible, metode spektrofotometri UV. Digunakan untuk protein terlarut.
1. Metode Kjeldahl
Metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.
Penetapan Kadar
Prosedur :
1. Timbang 1 g bahan yang telah dihaluskan, masukkan dalam labu Kjeldahl (kalau kandungan protein tinggi, misal kedelai gunakan bahan kurang dari 1 g).
2. Kemudian ditambahkan 7,5 g kalium sulfat dan 0,35 g raksa (II) oksida dan 15 ml asam sulfat pekat.
3. Panaskan semua bahan dalam labu Kjeldahl dalam lemari asam sampai berhenti berasap dan teruskan pemanasan sampai mendidih dan cairan sudah menjadi jernih. Tambahkan pemanasan kurang lebih 30 menit, matikan pemanasan dan biarkan sampai dingin.
4. Selanjutnya tambahkan 100 ml aquadest dalam labu Kjeldahl yang didinginkan dalam air es dan beberapa lempeng Zn, tambahkan 15 ml larutan kalium sulfat 4% (dalam air) dan akhirnya tambahkan perlahan-lahan larutan natrium hidroksida 50% sebanyak 50 ml yang telah didinginkan dalam lemari es.
5. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera pada alat destilasi. Panaskan labu Kjeldahl perlahan-lahan sampai dua lapis cairan tercampur, kemudian panaskan dengan cepat sampai mendidih.
6. Destilasi ditampung dalam Erlenmeyer yang telah diisi dengan larutan baku asam klorida 0,1N sebanyak 50 ml dan indicator merah metil 0,1% b/v (dalam etanol 95%) sebanyak 5 tetes, ujung pipa kaca destilator dipastikan masuk ke dalam larutan asam klorida 0,1N.
7. Proses destilasi selesai jika destilat yang ditampung lebih kurang 75 ml. Sisa larutan asam klorida 0,1N yang tidak bereaksi dengan destilat dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida 0,1N. Titik akhir titrasi tercapai jika terjadi perubahan warna larutan dari merah menjadi kuning. Lakukan titrasi blanko.
Kadar Protein
Kadar protein dihitung dengan persamaan berikut :

Keterangan :
Fk : faktor koreksi
Fk N : 16
2. Metode Titrasi Formol
Larutan protein dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan formalin akan membentuk dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH sehingga akhir titrasi dapat diakhiri dengan tepat. Indikator yang digunakan adalah p.p., akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.
3. Metode Lowry
Prosedur :
Pembuatan reagen Lowry A : Merupakan larutan asam fosfotungstat-asam fosfomolibdat dengan perbandingan (1 : 1)
Pembuatan reagen Lowry B :
Campurkan 2% natrium karbonat dalam 100 ml natrium hidroksida 0,1N. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml tembaga (II) sulfat 1% dan 1 ml kalium natrium tartrat 2%.

Penetapan Kadar
a. Pembuatan kurva baku
Siapkan larutan bovin serum albumin dengan konsentrasi 300 µg/ml (Li). Buat seri konsentrasi dalam tabung reaksi, misal dengan komposisi berikut :

Tambahkan ke dalam masing-masing tabung 8 ml reagen Lowry B dan biarkan selama 10 menit, kemudian tambahkan 1 ml reagen Lowry A. Kocok dan biarkan selama 20 menit. Baca absorbansinya pada panjang gelombang 600 nm tehadap blanko. (Sebagai blanko adalah tabung reaksi no.1 pada tabel di atas)
b. Penyiapan Sampel
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil volume tertentu dan lakukan penetapan selanjutnya seperti pada kurva baku mulai dari penambahan 8 ml reagen Lowry A sampai seterusnya.
4. Metode Spektrofotometri Visible (Biuret)
Prosedur :
Pembuatan reagen Biuret :
Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4. 5H2O) dan kalium natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O) dalam 50 ml aquades dalam labu takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30 ml natrium hidroksida 10% sambil dikocok-kocok, selanjutnya tambahkan aquades sampai garis tanda.
Pembuatan larutan induk bovin serum albumin (BSA):
Ditimbang 500 mg bovin serum albumin dilarutkan dalam aquades sampai 10,0 ml sehingga kadar larutan induk 5,0% (Li). Penetapan kadar (Metode Biuret) :
Pembuatan kurva baku :
Dalam kuvet dimasukkan larutan induk, reagen Biuret dan aquades misal dengan komposisi sebagai berikut:

Setelah tepat 10 menit serapan dibaca pada ë 550 nm terhadap blanko yang terdiri dari 800 µL reagen Biuret dan 200 µL aquades.
Cara mempersiapkan sampel :
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil sejumlah µL larutan tersebut secara kuantitatif kemudian tambahkan reagen Biuret dan jika perlu tambah dengan dapar asetat pH 5 untuk pengukuran kuantitatif.
Setelah 10 menit dari penambahan reagen Biuret, baca absorbansinya pada panjang gelombang 550 nm terhadap blanko yang berisi reagen Biuret dan dapar asetat pH 5. Perhatikan adanya faktor pengenceran dan absorban sampel sedapat mungkin harus masuk dalam kisaran absorban kurva baku.
5. Metode Spektrofotometri UV
Asam amino penyusun protein diantaranya adalah triptofan, tirosin dan fenilalanin yang mempunyai gugus aromatik. Triptofan mempunyai absorbsi maksimum pada 280 nm, sedang untuk tirosin mempunyai absorbsi maksimum pada 278 nm. Fenilalanin menyerap sinar kurang kuat dan pada panjang gelombang lebih pendek. Absorpsi sinar pada 280 nm dapat digunakan untuk estimasi konsentrasi protein dalam larutan. Supaya hasilnya lebih teliti perlu dikoreksi kemungkinan adanya asam nukleat dengan pengukuran absorpsi pada 260 nm. Pengukuran pada 260 nm untuk melihat kemungkinan kontaminasi oleh asam nukleat. Rasio absorpsi 280/260 menentukan faktor koreksi yang ada dalam suatu tabel.

Kadar protein mg/ml = A280 x faktor koreksi x pengenceran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Protein. (http://www.wikipedia.com) diakses tanggal 12 Oktober 2008.
Sudarmaji, S, dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta.
Page, D.S. 1997. Prinsip-prinsip Biokimia. Erlangga: Jakarta.
Santoso, H. 2008. Protein dan Enzim. (http://www.heruswn.teachnology. com) diakses tanggal 12 Oktober 2008.
Sloane, E. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Anonim. 2007. Manfaat Protein dalam Kehidupan Sehari-hari. (http://www.blogger.com) diakses tanggal 12 Oktober 2008
Sudjadi, A. dan Rohman. 2004. Analisis Obat dan Makanan cetakan I. Yogyakarta: Yayasan Farmasi Indonesia.
Apriyantono, A. dkk. 1989. Analisis Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Penerbit UI-Press.
Kamal, M. 1991. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan Ternak, Yogyakarta: UGM-Press

Indikator bau badan sebagai ganti sidik jari berbasis biologi

Posted in Uncategorized on Februari 4, 2009 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

Oleh Tomi Rustamiaji, S.Si

Suatu saat, polisi atau detektif tidak perlu mencari sidik jari ataupun melakukan tes DNA pada bercak darah yang didapat dari tempat peristiwa kimia tapi cukup hanya dengan menggunakan alat elektronik pendeteksi bau bisa mendeteksi siapa sang kriminal. Ternyata akhir-akhir ini, para ilmuwan menemukan bahwa bau badan seseorang serupa dengan sidik jari, dan indikator yang berbasis biologi ini mampu diterapkan untuk mendeteksi individu tertentu karena memiliki ciri khas yang sebanding dengan sidik jari.

Para ilmuwan dari Monell Center mengajukan sebuah penelitian tentang tingkah laku dan jejak kimia yang menyimpulkan bahwa bau unik seseorang akan tetap terdeteksi bahkan bila terjadi perubahan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi.

“Hasil penemuan yang berbasis subjek hewan ini mendukung teori ilmiah bahwa bau badan menyediakan sebuah ‘sidik bau’ yang konsisten dan serupa dengan sidik jari atau sampel DNA,” ujar Gary Beauchamp, PhD. Gary Beauchamp adalah seorang ahli tingkah laku bidang biologi di Monell dan salah satu dari penulis senior artikel tentang penemuan ini. “Bau unik ini dapat dideteksi dengan menggunakan hidung hewan maupun instrumen kimia.”

Mamalia seperti tikus dan manusia diketahui memiliki bau badan unik yang ditentukan secara genetis yang disebut ‘odortypes’ (tipe bau −red). Odortypes ditentukan dalam suatu bagian di gen oleh Major Histocompatability Complex (MHC), dimana ini pada ujungnya dapat membuat perbedaan bau antara satu individu dan yang lainnya. Gen yang sama juga terlibat dalam fungsi kekebalan tubuh.

Informasi odortype ditransmisikan melalu cairan tubuh seperti keringat dan urin, dimana matriks ini mengandung sejumlah senyawa kimia organik volatil (mudah menguap, -red). Senyawa organik volatil pada umumnya memiliki karakteristik bau yang unik.

Tipe makanan yang dikonsumsi juga dapat mempengaruhi bau badan sesorang. Bawang putih, sebagai contohnya, dapat dideteksi dalam bau tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Selain itu, perubahan menu makanan memiliki akibat menghalangi deteksi dari odortype sehingga menutupi identitas bau sejati. Untuk menyelidiki pertanyaan ini, para peneliti melakukan sebuah rangkaian percobaan dalam tingkah laku dan eksperimen kimia.

Dalam tes tingkah laku, ‘sensor’ tikus indera penciuman mereka yang dilatih untuk memilih antara pasangan tikus uji yang memiliki perbedaan dalam gen MHC, baik yang berbeda gen maupun yang berbeda dalam menu makanan. Analisis kimia dengan instrumen untuk memeriksa sejumlah senyawa organik volatil dalam urin tikus yang memiliki set MHC yang berbeda dan menu makanan yang berbeda.

Hasilnya mengindikasikan bahwa odortypes tetap ada walaupun menu makanan berubah. Menu makanan yang memiliki karakteristik bau yang kuat sekalipun tidak akan menghilangkan odortypes dari satu tikus. Selain itu penelitian secara metode kimia dan tingkah laku pun mengindikasikan kesimpulan yang sama.

“Penemuan ini mengindikasikan bahwa sidik bau berbasis biologi serupa dengan sidik jari, dan mampu diterapkan untuk mendeteksi satu individu. Jika ini diterapkan dalam kasus manusia, hal ini membuka kemungkinan bahwa suatu perangkat dapat dikembangkan untuk mendeteksi sidik bau manusia,” ujar penulis utama Jae Kwak, PhD, seorang ahli kimia di Monell.

Menurut Beauchamp, pendekatan yang sama sedang diselidiki untuk meneliti hubungan bau tubuh dengan penyakit. Penelitian ini dapat menuju perkembangan alat elektronik untuk pedeteksian awal dan diagnosis cepat dari penyakit seperti kanker kulit dan paru-paru dan beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus.

DITUNGGU KONTRIBUSINYA

Posted in Uncategorized on Februari 4, 2009 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

Yth. rekan guru kimia se-Sumatera Barat, blog ini menunggu karya-karya besar guru kimia. Sampai hari ini kok belum ada yang masuk? Khan dah dikasih pw-nya!

Melamine in milk

Posted in Uncategorized on Oktober 22, 2008 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

melamine-structure-3DToday, we learn that several thousand babies in China are seriously ill, having suffered acute kidney failure, with several fatalities, among those given formula milk contaminated with the industrial chemical melamine. The toll is far higher than was previously admitted by the Chinese authorities, according to the BBC. Click here for a list of melamine contaminated products.

Manufacturer, Sanlu, part-owned by New Zealand’s Fonterra Cooperative, recalled all of its powdered milk products in China’s north-west province of Gansu. However, twenty-two brands, including China Mengniu Diary Co and Inner Mongolia Yili Industrial Group, of milk powder have so far been identified as containing melamine. “The majority of afflicted infants ingested Sanlu-brand milk powder over a long period of time, their clinical symptoms showed up three to six months after ingesting the problematic products,” Health Minister Chen Zhu told Bloomberg Asia.

Allegedly, someone in the supply change, milk supplier or manufacturer, is adding melamine to the milk formula to artificially inflate the reading for protein levels. Formula milk was not until now tested for melamine, because regulators either did not suspect this ingredient might be added.

So, what is melamine and how does it spoof the protein levels in baby formula milk?

melamine-structureMelamine is an organic compounds, a base with chemical formula C3H6N6. Officially it is 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine in the IUPAC nomenclature system (CAS #108-78-1). It is has a molecular mass of just over 126, forms a white, crystalline powder, and is only slightly soluble in water. It is used in fire retardants in polymer resins because its high nitrogen content is released as flame-stifling nitrogen gas when the compound is burned or charred.

Indeed, it is this high nitrogen level – 66% nitrogen by mass – in melamine that gives it the analytical characteristics of protein molecules. Melamine can also be described as a trimer of cyanamide, three cyanamide units joined in a ring. It is described as being harmful according to its MSDS sheet: “Harmful if swallowed, inhaled or absorbed through the skin. Chronic exposure may cause cancer or reproductive damage. Eye, skin and respiratory irritant.” Not something you would want in your infant’s milk. However, that said, the toxic dose is rather high, on a par with common table salt with an LD50 of more than 3 grams per kilogram of bodyweight.

Previously, melamine was found in exported pet food last year and blamed for killing thousands of cats and dogs in the US. Bloomberg also reports that analysis of samples of ice cream produced by Yili have also revealed the presence of melamine. Regardless of crushing inflation and legislative pressure, there is no excuse for the adulteration of food in this way. Diluting a product, the previous approach, is highly unethical and can lead to malnutrition, but straight poisoning is tantamount infanticide. This is also not the first time that Chinese consumers have faced problems with milk powder. In 2004, more than a dozen children died having been fed formula with minimal nutritional content.

sanyuan-milk-safeAccording to The Beijinger milk has been withdrawn from the likes of Starbucks as it emerges that regular milk has been tainted, including that produced by Olympic sponsor Yili. However, milk from more than 400 companies including Sanyuan and Nestle have tested negative for melamine and are presumably perfectly safe to drink.

But, if melamine has low toxicity (hat tip to commenter Barney) then what is it that has poisoned thousands of babies in China and why has this scandal occurred? Well, LD50, the toxic dose issue, tells us something about acute exposure not the apparent six-months’ worth of accumulated exposure these babies have suffered. Chronic exposure to melamine can lead to bladder or kidney stones and even bladder cancer and as we have learned, acute kidney failure.

The melamine in milk headlines also ignore the fact that the compound added to the milk may not be pure. There is no reason to imagine that those unscrupulous enough to add a toxic compound to baby formula milk would worry about contaminants, such as cyanuric acid, that might be found in the raw material. Indeed, even if melamine toxicity were not an issue and truly was an inert substance added to spike the protein readings in quality control tests, then any one of the impurities associated with rough melamine manufacture may be a major cause for concern.

Happy Mole Day!

Posted in Uncategorized on Oktober 22, 2008 by BULETIN SMA NEGERI 4 PADANG

Today, Oct. 23, Tupelo High School students commemorated chemistry’s basic measuring unit, the mole. Beginning at 6:02 this morning, THS chemistry students celebrated Mole Day with a parade, pledges, poetry and posters, all in honor of Amadeo Avogadro, the first person to propose the concepts of molecules. The famous chemist came up with the number 6.022 times 10 to the 23rd power, one of the most used numbers in chemistry.

Mole Day was created as a way to foster interest in chemistry. Schools throughout the United States and around the world celebrate Avogadro’s number from 6:02 a.m. to 6:02 p.m. each Oct. 23.

I’ve posted some of Daily Journal photographer Deste Lee’s pictures from one of Dee Cooper’s chemistry classes, and students who took their own photos are welcome to submit them and comment on the blog too (for extra credit). Also be sure to read my story on Mole Day in this Sunday’s Education section of the Daily Journal.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.